SOSIOLOGI DAN KONSEP - KONSEP SOSIALISASI

PENGANTAR

Ilmu sosiologi bertujuan menjembatani mahasiswa kebidang sosiologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri. Harapannya, agar mahasiswa mengetahui ruang lingkup, metode teori, penerapan, serta mengenal para tokohnya.
Siapakah para perintis sosiologi ? Inkeles (1965) para ahli cenderung sepaham bahwa Aguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, dan Max Weber merupakan perintis sosiologi.
Nama “sosiologi’’ memang merupakan ciptaan Comte, suatu gabungan antara kata Romawi socius dan kata Yunani logos. Dalam bukunya yang berjudul Course de Philosophie Positive. Dalam buku ini Comte mengemukakan pandangannya mengenai “hukum kemajuan manusia” atau “hukum tiga jenjang”. Menurut pandangan ini, sejarah manusia melewati tiga jenjang yang mendaki : Jenjang teologi, jenjang metafisika, dan jenjang positif.
Pada jenjang pertama, manusia mencoba mencoba menjelaskan gejala disekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikhodrati. Dijenjang kedua, manusia mengacu pada kekuatan metafisik atau abstrak. Sedangkan pada jenjang terakhir atau yang ketiga, jenjang positif menjelaskan gejala alam maupun social yang dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah didasarkan pada hokum ilmiah. Dengan memperkenalkan metode positif ini, Comte dianggap sebagai perintis positivisme.
Ciri metode positif yaitu, bahwa objek yang dikaji harus berupa fakta, dan bahwa kajian harus bermanfaat serta mengarah pada kepastian dan kecermatan.  Adapun sarana yang menurut Comte dapat digunakan untuk melakukan kajian ialah (1) pengamatan, (2) perbandingan, (3) eksperimen, atau (4) metode historis (Laeyendecker, 1983:143-145).  

KONSEP – KONSEP SOSIALISASI
1. Sosialisasi
Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978 : 116).  Apa  yang dipelajari seseorang dalam proses sosialisasi ? Menurut Berger, dan menurut sejumlah tokoh sosiologi lain, yang diajarkan melalui sosialisasi adalah peran (role).
2. Sosialisasi antisipatoris
Suatu bentuk sosialisasi sekunder yang mempersiapkan seseorang untuk peran yang baru (Merton).

3. Sosialisasi Partisipatif
Pola yang didalamnya anak diberi imbalan manakala berperilaku baik.

4. Sosialisasi Represif
Sosialisasi represif menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan (Jaeger).

5. Sosialisasi Primer
Sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat (Berger dan Luckmann).

6. Sosialisasi Skunder
Proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi kedalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya (Berger dan Luckmann).

7. Agen-agen Sosialisasi
Pihak yang melaksanakan sosialisasi.

8. Struktur Sosial
Pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.

9. Institusi Sosial
Seperangkat norma yang terinstitusionlisasi, yaitu : telah diterima sebagian besar anggota sistem sosial, diinternalisasikan, dan diwajibkan terhadap pelanggarnya dikenakan sanksi (Johnson).

10. Sosial Dinamis
Bagian sosiologi yang mewakili perubahan, laksana fisiologi dalam biologi (Comte).

11. Sosial Statis
Bagian sosiologi yang mewakili stabilitas, laksana anatomi dalam biologi (Comte).

12. Tindakan Sosial
Tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, berorientasi pada perilaku orang lain, dan mempunyai makna subyektif baginya (Weber).

13. Fakta Sosial
Cara bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang berada diluar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya.

14. Sosiologi Kehidupan Sehari-hari
Bagian sosiologi yang mengkhususkan diri pada apa yang terjadi antara individu dikala mereka berhadapan muka, bertindak dan berkomunikasi.

15. Sosiologi Struktur Sosial
Bagian sosiologi yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan serta hubungan antara bagian masyarakat (Douglas).

16. Makrososiologi
Bagian sosiologi yang mempelajari ciri masyarakat secara menyeluruh serta sistem masyarakat dunia (Lenski).

17.  Mesososiologi
Bagian sosiologi yang tertarik pada institusi khas dalam masyarakat (Lenski).

18. Mikrososiologi
Bagian sosiologi yang mempelajari dampak sistem sosial dan kelompok primer pada individu (Lenski).

19. Isu
Hal yang berada diluar lingkungan setempat individu dan diluar jangkauan kehidupan pribadinya.

20. Kesusahan
Masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi (Mils).

21. Individu
Individu dapat diartikan manusia yang hidup sendiri. Adapun Individupun sebagai mahkluk ciptaan Sang Maha Kuasa yang sama dengan manusia lain, karena dalam dirinya dilengkapi Raga, Rasa, Rasio, dan Rukun.

22. Masyarakat
Suatu sistem sosial yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya (Parsons).

23. Status
Suatu kumpulan Hak dan Kewajiban (Linton).

24. Peran
Segi dinamis suatu status (Linton).

25. Pengambilan Peran
Proses melalui mana setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada dalam masyarakat (Mead).

26. Interaksi
Proses hubungan yang memberikan dan memiliki efek pada satu dan lainnya, baik itu pada manusia atau pada sebuah benda.

27. Generalized Other
Peran semua orang lain dalam masyarakat dengan siapa seseorang berinteraksi (Mead)

28. Looking-glass Self
Diri yang berkembang melalui proses interaksi dengan orang lain (Cooley).

29. Desosialisasi
Proses yang didalamnya sesorang mengalami “pencabutan” diri yang dimilikinya (Goffman).

30. Resosialisasi
Proses yang didalamnya seseorang diberi suatu diri yang baru (Goffman).

RINGKASAN

Menurut Berger, manusia merupakan makhluk tak berdaya karena dilengkapi dengan naluri yang relatif tidak lengkap. Oleh sebab itu, manusia mengembangkan kebudayaan untuk mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri. Beberapa orang ahli sosiologi berpendapat bahwa yang diajarkan melalui sosialisasi ialah peran-peran.
Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia, dalam kaitan inilah para ahli berbicara mengenai bentuk proses sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, atau pendidikan berkesinambungan.
Setelah sosialisasi dini yang dinamakan sosialisasi primer, kita menjumpai sosialisasi skunder. Sosialisasi antisipatoris merupakan suatu bentuk sosialisasi skunder yang mempersiapkan seseorang untuk peran yang baru.

Buku Refrensi Belajar
Pengantar Sosiologi/Kamanto Sunarto. – Jakarta :

Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.

Comments

Popular posts from this blog

DORONG USAHA MENJAHIT, KOPERASI YCAB DUKUNG ANGGOTA JADI PENGUSAHA (KISAH SUKSES IBU RUMAH TANGGA)